Iran Mengancam Pembalasan Terhadap Amerika Serikat Atas Pelanggaran Kesepakatan Islamabad

TEHERAN, LELEMUKU.COM – Militer Iran mengancam akan melancarkan aksi pembalasan terhadap Amerika Serikat jika Washington terus melakukan penyerangan dan melanggar kesepakatan damai pada Jumat.
Ancaman tersebut berkaitan dengan dugaan pelanggaran terhadap Nota Kesepahaman Islamabad yang sebelumnya telah mengakhiri perang antara kedua negara sejak 28 Februari lalu. Pihak Iran menegaskan bahwa militer Amerika Serikat akan menghadapi tindakan yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Sebagai bentuk respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran dilaporkan telah menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di enam negara kawasan Timur Tengah. Serangan tersebut menyasar sejumlah fasilitas radar, hanggar, hingga helikopter dan pesawat militer.
Ketegangan kembali meningkat setelah Amerika Serikat menerapkan kembali blokade maritim terhadap Iran. Kebijakan tersebut menyebabkan beberapa kapal tanker dan kapal kargo milik Iran dicegat sehingga mengalami kesulitan untuk keluar dari kawasan Teluk Persia.
Langkah Amerika Serikat yang memperketat blokade maritim ini dinilai oleh pihak Teheran sebagai bentuk pelanggaran nyata terhadap kesepakatan damai yang telah disepakati. Meskipun tekanan dari luar terus meningkat, kapal-kapal tanker Iran dilaporkan tetap berlayar dari Selat Hormuz menuju Samudera Hindia.
Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, menyatakan bahwa Presiden Donald Trump akan menghadapi tantangan baru yang tidak terduga apabila Amerika Serikat terus melanjutkan kebijakan permusuhan terhadap negaranya. Pihak militer Iran mengklaim telah menyiapkan serangan kejutan untuk mengantisipasi tindakan agresif tersebut.
"Para pejabat AS akan menghadapi tantangan baru dan tak terduga dari militer Republik Islam Iran, baik dalam hal persenjataan maupun geografi perang, yang tidak pernah mereka bayangkan. Amerika Serikat harus berharap kejutan dari militer kami," kata Akraminia.
Akraminia juga menambahkan bahwa setiap ancaman dari Amerika Serikat maupun sekutunya akan memicu pembalasan secara langsung dan keras karena Washington dinilai tidak mampu mengendalikan gejolak di wilayah pengaruh militernya sendiri. (Evu)