Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Jayawijaya Memasukkan Atraksi Perang Festival Budaya Lembah Baliem Ke Dalam Sosial Drama Di Kabupaten Jayawijaya
WAMENA, LELEMUKU.COM – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya memastikan bahwa atraksi perang dalam Festival Budaya Lembah Baliem ke-34 tidak sepenuhnya ditiadakan, melainkan diintegrasikan ke dalam pertunjukan drama sosial pada Selasa (14/7/2026).
Konsep baru ini berbeda dengan penyelenggaraan festival ke-33 pada tahun 2025 yang menyajikan simulasi perang secara mandiri dengan aksi saling serang secara langsung. Pada perhelatan ke-34 tahun 2026, pertikaian tersebut akan dikemas sebagai bagian dari jalan cerita pertunjukan yang lebih mengedepankan aspek drama sosial daripada unsur pertempuran.
Kebijakan ini diterapkan menyusul hasil kurasi serta evaluasi dari Kementerian Kebudayaan terhadap agenda pariwisata yang masuk dalam 10 Kharisma Event Nusantara tersebut. Pemerintah daerah mendapatkan masukan untuk menghadirkan variasi pementasan agar festival pada masa depan tampil lebih memikat tanpa melulu berfokus pada narasi pertempuran.
Di samping menawarkan penyegaran pertunjukan, pembatasan porsi simulasi perang mandiri ini juga dimaksudkan untuk menggeser paradigma masyarakat dalam situasi kontemporer. Langkah tersebut diharapkan mampu meredam bangkitnya memori kolektif terkait bentrokan masa lampau di kalangan warga lokal.
Sebagai gantinya, ajang tahun ini bakal mengangkat kembali nilai-nilai tradisi yang mulai pudar lewat pementasan drama sosial. Sejumlah adat yang akan ditampilkan meliputi ritual potong jari sebagai simbol duka mendalam bagi perempuan, hingga tradisi membalur tubuh dengan tanah liat serta menetap di dalam honai selama satu bulan bagi istri atau ibu yang ditinggal wafat anggota keluarganya.
Kepala Bidang Destinasi dan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jayawijaya Naftali Rumbiak menjelaskan bahwa rekomendasi dari kementerian mendorong adanya diversifikasi konten karena selama ini fokus pertunjukan terlalu didominasi oleh tema perang. "Kurasi dari KEN ini yang coba kita masukan dalam pelaksanaan FBLB tahun ini, sehingga bukan cerita perang -perangan yang akan kita tonjolkan tetapi cerita dibalik itu," kata Naftali Rumbiak.
Ia mengutarakan bahwa adat berkabung seperti membalur badan dengan tanah liat kini sudah sangat jarang diperlihatkan kembali kepada publik sebagai jati diri kebudayaan yang asli. "Contoh seorang wanita kalau Suami atau anaknya meninggal dunia maka wanita tersebut harus melumuri seluruh tubuhnya dengan tanah liat, lalu selama sebulan harus ada dalam honai, cerita seperti ini tak pernah dimunculkan lagi dalam masyarakat sebagai identitas budaya yang sesungguhnya," kata Naftali Rumbiak.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya berharap modifikasi konsep tersebut dapat menyuguhkan edukasi adat yang lebih bermakna sekaligus menghadirkan tontonan yang lebih beragam bagi para wisatawan. (Evu)