Kisah Kehancuran Kota Sodom Dalam Perspektif Sejarah Dan Penafsiran Ilmiah Di Kawasan Laut Mati

JAYAPURA, LELEMUKU.COM – Kisah kehancuran kaum Nabi Luth di Kota Sodom yang tertulis dalam kitab suci kini banyak dikaji melalui berbagai sudut pandang sejarah dan penafsiran ilmiah di kawasan Laut Mati.
Berdasarkan catatan sejarah keagamaan, kaum Sodom dihancurkan karena melakukan perbuatan menyimpang sesama jenis serta tindakan kejahatan lainnya. Nabi Luth diutus untuk membimbing masyarakat di kota tersebut dan Gomorah, namun ajakan tersebut ditolak oleh penduduk setempat yang bahkan mengancam akan mengusir nabi beserta pengikutnya.
Kehancuran kota tersebut digambarkan terjadi pada waktu subuh dengan peristiwa alam yang dahsyat. Dalam kitab suci, wilayah tersebut dijungkirbalikkan dan dihujani batu dari tanah yang terbakar, menyisakan hanya Nabi Luth dan sebagian keluarganya yang beriman, sementara istrinya ikut binasa.
Beberapa mufasir di Indonesia, termasuk Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, menganalogikan peristiwa tersebut dengan bencana alam seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, dan longsor. Hujan batu dari tanah terbakar dihubungkan dengan material piroklastik atau lahar panas yang terlempar dari aktivitas tektonik di zona sesar aktif Laut Mati.
Meskipun demikian, penelitian geologi modern menunjukkan tidak ada gunung berapi aktif di sekitar Laut Mati pada periode sekitar 4.000 tahun lalu. Teori ilmiah lain berspekulasi bahwa kehancuran tersebut dipicu oleh gempa bumi yang menyemburkan gas dan belerang, atau ledakan udara meteor di situs Tall el-Hammam yang diyakini sebagai lokasi Kota Sodom.
Saat ini, lokasi yang diyakini sebagai bekas Kota Sodom berada di kawasan Laut Mati, sebuah danau berkadar garam ekstrem di perbatasan Israel dan Yordania yang gersang tanpa kehidupan di dalamnya. Kisah ini tetap menjadi rujukan moral penting dalam berbagai kitab suci keagamaan mengenai batas perilaku manusia. (Evu)