-->

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Meluruskan Sejarah Rekaman Suara Proklamasi Sukarno di Jakarta

JAKARTA, LELEMUKU.COM – Menteri Kebudayaan Fadli Zon meluruskan sejarah mengenai rekaman suara pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ternyata dibuat pada tahun 1951, bukan pada hari pelaksanaan proklamasi, saat menghadiri kegiatan Tapak Tilas Proklamasi di Jakarta pada Minggu (16/8/2026).

Fadli Zon menjelaskan bahwa suara Presiden pertama Sukarno yang sering diperdengarkan setiap peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut direkam ulang beberapa tahun setelah peristiwa bersejarah itu berlalu. Rekaman suara tersebut dibuat lima tahun setelah pembacaan naskah proklamasi yang asli pada tanggal 17 Agustus 1945.

Menurut catatan sejarah Radio Republik Indonesia, tidak ada dokumentasi audio langsung saat Sukarno membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. Rekaman yang beredar saat ini merupakan hasil perekaman ulang di studio Radio Republik Indonesia Jakarta atas inisiatif pendiri lembaga penyiaran tersebut.

Pada saat pembacaan proklamasi berlangsung pada tahun 1945, terdapat rombongan delegasi yang datang terlambat ke lokasi upacara, termasuk di antaranya adalah Barisan Pelopor. Karena terlambat, mereka tidak sempat mendengarkan pembacaan teks proklamasi secara langsung dan meminta Sukarno untuk mengulanginya.

Permintaan untuk mengulang pembacaan teks tersebut ditolak oleh Mohammad Hatta, yang menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan hanya diucapkan satu kali saja. Hal ini menyebabkan rakyat yang terlambat tidak memiliki kesempatan untuk mendengarkan langsung suara Sukarno pada momen penting tersebut.

"Kalau kita juga boleh jujur, suara pidato Bung Karno ketika itu, proklamasi juga direkam lima tahun kemudian," kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

"Mereka meminta Bung Karno untuk membaca ulang, karena mereka tidak mendengar rasanya proklamasi itu. Tetapi kata Bung Hatta, proklamasi hanya diucapkan sekali saja," ujar Fadli Zon.

Proses perekaman ulang suara proklamasi tersebut akhirnya baru terlaksana pada tahun 1951 setelah pendiri Radio Republik Indonesia, Jusuf Ronodipuro, meminta Sukarno untuk membacakan kembali teks proklamasi di studio. Rekaman inilah yang kemudian disebarluaskan dan terus diperdengarkan kepada masyarakat hingga saat ini. (Evu)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel