-->

Profil Provinsi Maluku Utara Sebagai Negeri Rempah Di Indonesia Timur Pada Akhir Tahun 2024

SOFIFI, LELEMUKU.COM – Provinsi Maluku Utara menyajikan profil perkembangan wilayah yang mencakup pertumbuhan ekonomi, peningkatan indeks pembangunan manusia, serta kekayaan sejarah dan budaya hingga akhir tahun 2024.

Wilayah yang beribu kota di Sofifi ini memiliki luas wilayah sebesar 31.982,50 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mencapai 1.394.231 jiwa. Sebagai provinsi kepulauan, Maluku Utara memiliki kurang lebih 1.474 pulau dengan 89 pulau di antaranya telah berpenghuni, sementara 83 persen atau sekitar 331 pulau lainnya belum berpenghuni. Secara administratif, provinsi ini terbagi menjadi delapan kabupaten dan dua kota, yaitu Kabupaten Halmahera Barat, Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Halmahera Selatan, Halmahera Utara, Kepulauan Sula, Pulau Morotai, Pulau Taliabu, Kota Ternate, dan Kota Tidore Kepulauan, yang mencakup 117 kecamatan, 117 kelurahan, dan 1.063 desa.

Luas perairan Maluku Utara mencapai 113.796,53 kilometer persegi atau sekitar 69,08 persen dari total wilayah, sedangkan luas daratannya tercatat sebesar 32.004,57 kilometer persegi atau sekitar 30,92 persen. Secara geografis, provinsi ini terletak di posisi strategis antara tiga derajat 40 menit Lintang Selatan hingga tiga derajat nol menit Lintang Utara dan 123 derajat 50 menit hingga 129 derajat 50 menit Bujur Timur, dengan batas wilayah Samudra Pasifik di sebelah utara dan timur, Laut Seram dan Provinsi Maluku di selatan, serta Laut Maluku di barat.

Sejarah Maluku Utara sebagai pusat perdagangan rempah dunia seperti cengkih dan pala telah dimulai sejak abad ke-13, yang kemudian memicu kedatangan bangsa Portugis pada awal abad ke-16 serta Belanda melalui VOC. Setelah kemerdekaan Indonesia, wilayah ini awalnya menjadi bagian dari Provinsi Maluku sebelum resmi terbentuk menjadi provinsi sendiri pada Senin (4/10/1999) berdasarkan Undang-Undang Nomor 46 Tahun 1999 yang diperkuat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2003. Ibu kota provinsi awalnya berada di Kota Ternate selama kurang lebih 11 tahun, sebelum akhirnya dipindahkan ke Sofifi di Pulau Halmahera pada Rabu (4/8/2010).

Masyarakat Maluku Utara sangat majemuk dengan keberadaan suku-suku utama seperti Suku Ternate, Tidore, Tobelo, Galela, Loloda, dan Sula yang menggunakan bahasa Melayu Ternate sebagai bahasa penghubung. Mayoritas penduduk memeluk agama Islam dengan persentase sekitar 74,50 persen atau lebih dari satu juta jiwa, diikuti Kristen Protestan sebesar 24,97 persen, Kristen Katolik sebesar 0,50 persen, serta Buddha, Hindu, dan Konghucu yang masing-masing sebesar 0,01 persen.

Dari aspek kesejahteraan, Indeks Pembangunan Manusia di provinsi ini pada tahun 2024 mencapai 71,84, mengalami kenaikan sebesar 0,86 poin atau 1,21 persen dari tahun sebelumnya yang berada di angka 70,98. Perekonomian daerah ini ditopang oleh sektor pertambangan emas dan nikel, perikanan, pertanian, serta perkebunan cengkih dan pala di bawah kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda dan Wakil Gubernur Sarbin Sehe untuk periode 2025-2030.

Selain kekayaan alam, Maluku Utara juga memiliki potensi pariwisata yang besar seperti Gunung Gamalama di Pulau Ternate, peninggalan sejarah di Pulau Tidore, Danau Tolire, Danau Paca, serta keindahan bawah laut di Kepulauan Morotai dan Taliabu. Konektivitas wilayah ini didukung oleh Bandar Udara Sultan Babullah di Ternate serta pelabuhan-pelabuhan utama di Ternate, Sofifi, dan Morotai yang menghubungkan mobilitas masyarakat antarpulau guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan pariwisata daerah. (Evu)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel