Penyaringan Berkas Lamaran Kerja Menggunakan Sistem ATS Memicu Kenaikan Angka Pengangguran Sarjana Di Indonesia
JAYAPURA, LELEMUKU.COM – Banyak pencari kerja di Indonesia dilaporkan gugur dalam proses seleksi administrasi akibat penggunaan perangkat lunak Applicant Tracking System oleh perusahaan menengah ke atas pada Mei 2026.
Data Sakernas Mei 2026 menunjukkan jumlah pengangguran lulusan sarjana mencapai 1.03 juta orang atau sekitar 14.31 persen dari total pengangguran di Indonesia. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan dengan data Agustus 2022 sebesar 7.98 persen, Agustus 2023 sebesar 10.3 persen, dan Agustus 2024 sebesar 11.28 persen. Meskipun demikian, Tingkat Pengangguran Terbuka untuk lulusan sarjana pada Mei 2026 tercatat sebesar 6.09 persen, yang masih lebih rendah dibanding lulusan SMK sebesar 7.68 persen dan lulusan SMA sebesar 6.17 persen.
Sistem ATS bekerja dengan menyaring dan mengurutkan dokumen kurikulum vitae atau CV pelamar berdasarkan kata kunci yang sesuai dengan deskripsi pekerjaan. Banyak berkas pelamar yang tidak lolos tahap ini karena masalah teknis seperti penggunaan tabel, format dua kolom, elemen grafis, atau dokumen hasil pemindaian yang terbaca kosong oleh sistem, sehingga rekruter manusia tidak pernah sempat melihat berkas tersebut.
Kesenjangan ini terjadi karena materi persiapan kerja yang diajarkan di institusi pendidikan masih menggunakan format lama yang mengutamakan visual mencolok. Sementara itu, cara kerja ATS yang membongkar CV menjadi data terstruktur tidak diajarkan secara merata dalam pendidikan formal, sehingga pelamar harus mencari informasi secara mandiri melalui jalur informal yang aksesnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan geografis.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia berupaya meningkatkan transparansi informasi lowongan kerja melalui Peraturan Presiden Nomor 57 Tahun 2023 tentang Wajib Lapor Lowongan Pekerjaan. Ketentuan ini diperkuat dengan Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor M/1/HK.04/11/2026 yang mewajibkan pemberi kerja melaporkan lowongan kerja melalui platform SIAPkerja dan Karirhub, guna mengatasi masalah ketidaklengkapan data lowongan kerja yang selama ini banyak dipublikasikan secara internal oleh perusahaan pengguna ATS mandiri.
Untuk mengatasi kendala tersebut, pembenahan perlu dilakukan mulai dari tingkat pelamar dengan menyusun CV format satu kolom berbasis teks PDF, hingga tingkat kampus yang harus memperbarui materi pembekalan kerja. Selain itu, kini hadir alat bantu lokal berbasis kecerdasan buatan seperti Jobind yang dikembangkan oleh PT Digivana Solusi Digital untuk membantu pelamar menguji keterbacaan berkas mereka dengan biaya langganan mulai dari Rp30.000 per bulan atau Rp89.999 untuk paket tiga bulan.
Upaya perbaikan kesenjangan teknis ini diharapkan dapat membantu para pelamar kerja yang kompeten agar tidak langsung tersisih di tahap awal penyaringan otomatis sebelum kemampuan mereka dinilai secara langsung oleh pihak perusahaan. (Evu)