-->

Perjalanan Panti Asuhan Bhakti Luhur Layani Anak Disabilitas di Tanimbar


SAUMLAKI, LELEMUKU.COM – Pimpinan Panti Asuhan Bhakti Luhur Cabang Saumlaki di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, Suster Bibiana Teniwut mengungkapkan perjalanan perkembangan panti tersebut yang telah melayani anak dengan kebutuhan khusus atau disabilitas selama 21 tahun sejak tahun 2000.

“Panti ini sudah ada sejak tahun 2000, awalnya di tahun 1996 dari 3 suster yang mengunjungi anak-anak secara langsung, door to door. Tujuannya untuk melihat, merawat dan membina anak dengan kebutuhan khusus,” ungkap dia kepada Lelemuku.com pada Jumat, 11 Juni 2021.

Aksi yang dilakukan oleh Suster Alma, diantaranya Suster Paulina Tawurutubun, Suster Ursula Kuma dan Suster Brigitina Mayabubun telah dibekali kemampuan penanganan anak dengan kebutuhan khusus pada awal tahun 1996 tersebut disambut positif oleh Keuskupan Amboina yang meminjamkan rumah milik keuskupan sebagai wadah awal pelayanan di Tanimbar.


Setelah melihat perkembangan pelayanan, Uskup Amboina pada tahun 1999 memberikan sebidang tanah dengan status pinjam pakai sebesar 1 Hektar serta dibangun 1 unit asrama untuk pelayanan karya Alma selama berkarya di Tanimbar.

Pada tahun 2001 Yayasan Bhakti Luhur Cabang Saumlaki mendapatkan tanah seluas 200 m2 di Desa Olilit dengan harga murah dan dibantu para donator 1 unit asrama dibangun, sehingga menambah jumlah penampungan.

Pada tahun 2006 Bhakti Luhur membuat terobosan baru dengan pelaksanaan kegiatan Income Generating Product (IGP) bertujuan memberikan peningkatan perekonomian bagi anak-anak disabilitas yang tidak tinggal pada Panti Asuhan.

Pada tahun 2007 dilakukan pelayanan mengurus anak-anak disabilitas juga mendapatkan kepercayaan  mengelola Sekolah Luar Biasa (SLB) dengan nama Kartini yang sebelumnya dari Yayasan St. Yoseph.


“Saya mulai memimpin disini tahun 2012 dengan jumlah 14 anak disabilitas hingga sekarang 2021 terdapat 27 anak. Jumlah anak di panti sejak berdiri berjumlah 140 anak,” kata Bibiana.

Ia pun menyebutkan jika pihaknya telah menjalin kerjasama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) dalam penyaluran Bantuan Sosial (Bansos) dan beberapa organisasi. Panti Asuhan masih terkendala beberapa hal, seperti makan dan minum, sarana dan prasarana.   

“Kami di Saumlaki sudah termasuk mandiri, mencari dana sendiri untuk membangun, memberdayakan anak-anak. Hanya seluruh keuangan sudah diatur di Malang dan selalu ada audit keuangan dari pusat. Tapi kami sendiri yang mengelola,” sebut Bibiana. (Laura Sobuber)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Banner IDwebhost

Iklan Bawah Artikel

Iklan Bawah Artikel